Feeds:
Posts
Comments

PHILOSOPHY_STORY

POHON APEL DAN ANAK KECIL…

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang ……. tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar ?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf, anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” Jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” Kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang manusia. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara manusia memperlakukan orang tua.

PHILOSOPHY_STORY

EMPAT ISTRI

Suatu ketika ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat istri. Dia mencintai istri ke-4 dan menganugrahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik diantara semua istrinya.

Pria ini juga mencintai istrinya yang ke-3. Ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita canyik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan istri ke-2. sang pedagang sangat menyukainya karena ia istri yang sabar dan penuh pengertian.

Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan istri ke-2nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama halnya dengan iistri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.

Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski istri pertama ini begitu saying kepadanya. Suatu hari sang pedagang sakit dan ia menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati , “saat ini aku punya empat istri, namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan”

ISTRI KE-4: NO WAY

Lalu pedagang itu memanggil semua istrinya dan bertanya pada istri ke-4nya. Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku ?” Ia terdiam ….. tentu saja tidak ! Jawab istri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau yang terhunus dan dan mengiris-iris hatinya.

ISTRI KE-3 : MENIKAH LAGI.

Pedagang itu sedih lalu bertanya pada istri yang ke-3. “Akupun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani sampai akhir hayatku ?” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini, Aku akan menikah lagi jika kau mati”. Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya terasa demam.

ISTRI KE-2 : SAMPAI LIANG KUBUR

Kemudian ia memanggil istri ke-2. “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalu aku mati maukah kau mendampingiku ?” Jawab sang istri, maafkan aku kali ini tak bisa menolongmu. Aku hanya bias mengantarmu sampai ke liang kubur. Nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu”.

ISTERI PERTAMA : SETIA BERSAMA SUAMI

Pedagang ini putus asa. Dalam kondisi itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi.

Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu lalu menoleh kesamping dan mendapati istri pertamanya disana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bias merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan aku biarkan engkau kurus seperti itu, istriku’

HIDUP KITA DIWARNAI EMPAT ISTRI

Sesungguhnya, kita punya empat istri dalam hidup ini

Istri ke-4 adalah adalah TUBUH kita .

Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.

Istri ke-3 adalah STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN.

Saat kita meninggal, semuanya kan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejapketika kita tiada.

Sedangkan istri ke-2 yakni KERABAT DAN TEMAN.

Seberapapun dekatnya hubungan kita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.

Dan sesungguhnya istri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA.

Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

JADI SELAGI MAMPU, PERLAKUKANLAH JIWA KITA DENGAN BIJAK SERTA JANGAN PERNAH MALU UNTUK BERBUAT AMAL, MEMBERIKAN PERTOLONGAN KEPADA SESAMA YANG MEMBUTUHKAN. BETAPAPUN KECILNYA BANTUAN KITA PEMBERIAN KITA MENJADI SANGAT BERARTI BAGI MEREKA YANG MEMERLUKANYA.

MARI KITA BELAJAR MEMPERLAKUKAN JIWA DAN AMAL KITA DENGAN BIJAK.

PHILOSOPHY_STORY

MENDULANG INTAN

Ada seorang pemuda desa yg bercita-cita menjadi pendulang intan. Karena niatnya yang begitu besar, ia sampai mempelajari berbagai teknik mendulang intan yang baik dari buku-buku lama. Hingga suatu titik pembelajaran, ia pun merasa harus segera mempraktekkan apa yang telah ia pelajari selama ini. pergilah ia ke Sebuah desa yang letaknya cukup jauh juga dari desa tempat ia tinggal. Konon di desa tersebut terdapat sebuah sungai yang cukup dikenal karena telah membuat banyak orang kaya. Ya, di sungai itulah orang-orang kaya itu berhasil mendulang intan terbaik yang pernah ada.

Maka begitu pemuda itu tiba di desa tersebut, sungai itulah yang langsung ia tuju. Setibanya di tepian sungai, apa yang dilihatnya… ternyata di sungai tersebut banyak juga orang-orang yang tengah melakukan apa yang juga ingin ia lakukan.Orang-orang yang ia lihat itu sepertinya sudah berhari-hari berada di sana. Bahkan ada juga yang terlihat sudah berbulan-bulan berdiri saja di tepian sungai sembari tangan mereka direndam ke dalam air. Sesekali pemuda itu melihat mereka mengangkat tampah yang mereka rendam di air.

“Ah, mereka mau memeriksa apakah ada intan yang terdulang,” batin pemuda itu. Lalu pemuda itu membatin lagi, “Ah, tapi jelas tak ada yang secanggih aku dalam mendulang intan. Akan kubuktikan pada mereka, bahwa dengan teknik yang kupelajari, dalam beberapa jam saja aku sudah akan berhasil mendulang intan.”

Pemuda itu pun segera mengeluarkan tampah yang sejak tadi dibawa di dalam tasnya. Dan ia pun segera bergabung berdiri di tepian sungai bersama dengan orang-orang yang telah lebih dulu di sana. Sembari mendulang, ia mengajak seorang bapak yang berdiri di sampingnya berbincang:

“Sudah berapa lama Bapak di sini?” tanya pemuda itu. “Saya berdiri di sini baru dua minggu.” “Wah lama juga ya,” kata pemuda itu dengan sedikit nada cemooh. “Wah, itu sih belum seberapa, Nak. Anak lihat anak muda di ujung timur sana,” bapak itu menunjuk pada seseorang yang cukup jauh dari mereka, “anak muda itu sudah lima bulan berdiri di sana tapi ia belum mendapatkan apapun.”

Pemuda itu sedikit terhenyak mendengar cerita si bapak itu. Antara percaya dan tidak percaya, pemuda itu pun berkomentar, “Apakah memang sesulit itukah mendulang intan bagi mereka…” Bapak di samping pemuda itu hanya tersenyum.

Matahari mulai naik persis di atas kepala. Keringat pemuda itu mulai bercucuran. Tapi ia belum juga berhasil mendulang intan. Ia pun mulai tampak kesal, sebab ternyata mendulang intan tidaklah semudah yang ia kira.

“Anak sejak baru datang langsung berdiri di samping kanan saya,” tiba-tiba bapak di samping pemuda itu berkata. “Iya.. Memangnya kenapa?” tanya pemuda itu sedikit risih. “Itu berarti anak seharusnya punya peluang yang lebih besar darisaya. itu karena arus sungai ini mengalir dari kanan kita ke kiri

kita. Jadi… kalau ada intan yang mungkin lewat, anaklah yang punya

peluang lebih besar mendapatkan intan itu lebih dulu.”

Pemuda itu sedikit heran dengan bapak itu. Mengapa dia malah membuka

rahasia itu? Mengapa bapak itu mengatakan hal seperti itu dengan cara yang santai, bukan dengan cara seperti orang yang direbut lahannya?

“Kuncinya adalah ketekunan, Nak,” ujar bapak itu lagi.

Pemuda itu membatin, “Ah! Mana ada ketekunan bisa meraihkan hasil? Di buku-buku yang saya baca yang penting itu adalah teknik yang tepat! Tidak pernah dijelaskan di buku itu mengenai ketekunan.”

“Ada hal-hal yang kadang hanya dapat kita pelajari dari alam,” ujar bapak itu seakan dia bisa membaca pikiran pemuda itu, “dan pelajaran semacam itu hanya berari buat diri kita sendiri. Sebab saat kita coba ajarkan ke orang lain, ia belumlah melewati pengalaman yang sama dengan kita.”

Pemuda itu lama kelamaan merasa jengah berdiri di samping bapak yang sejak tadi mengoceh tentang filsafat hidup itu. Ia pun memutuskan untuk pindah ke titik yang lain. Ketika ia sedang melangkah meninggalkan tempat sebelumnya, bapak itu berucap: “Ketekunan, Nak. ingatlah itu…” “Ya.. ya.. terserah,” pemuda itu terus melangkah. Tapi tiba-tiba saja ia mendengar bapak itu berteriak girang. “Alhamdulillah!!” teriak bapak itu. Pemuda itu langsung menoleh. Dia lihat bapak itu sedang merapikan tampahnya. Sambil melirik pada pemuda itu bapak itu berkata: “Apa kubilang, ketekunan, Nak.” “Bapak dapat?” tanya pemuda itu sambil melongo. “Ya…” lalu bapak itu segera pergi meninggalkan sungai itu.

Pemuda itu menyesali ketidak sabarannya. “Coba saja, aku lebih lama sedikit di sana,pasti akulah yang dapat intan itu!” pikir pemuda itu. Dengan gontai ia pun kembali ke tempatnya semula. Dan mulai mendulang lagi.

***

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu.. Pemuda itu masih tetap di tepi sungai itu. Dan apa yang di pikirannya hanya intan saja. Makanan yang ia bawa pun sudah habis. Ia mulai kelaparan. Tepat pada saat perutnya berbunyi, ia melihat buah pepaya sedang mengapung ke arahnya. Dengan segera ia pun mengambil buah yang ranum itu. Ia langsung memotong dengan pisau dan mulai memakannya.

“Buah ini nikmat sekali,” pikirnya, “Aku tak pernah memakan buah senikmat ini… Atau apakah karena aku saja yang terlalu lapar?”

***

Sejalan dengan hari, orang-orang di sungai itu berangsur-angsur berkurang. Hingga akhirnya hanya ia sendiri yang tertinggal. Beberapa hari ia lewati dalam kesendirian. Ia pun merasa kesepian. Lidah yang ia biasa gunakan untuk berbicara, sekarang terasa kaku. Sebab ia tak pernah lagi menggunakannya. Kadang ia tertawa sendiri. Dan pada saat-saat itu pula ia berpikir, “mungkin aku sudah gila.”

Keesokan harinya, ketika ia sedang melamun, ia mendengar suara langkah kaki menginjak rumput kering di belakangnya. Ia pun menoleh dengan cepat. Di

lihatnya seorang yang sedikit lebih muda darinya datang sambil membawa tampah.

Orang asing itu segera mengambil tempat di sampingnya. Dan orang asing itu segera melakukan hal yang dilakukan oleh orang-orang yang mendulang intan. Pemuda itu mengangkat bicara, “Kamu mau mendulang intan?” Orang asing itu menoleh, “Iya.. apa urusanmu?” jawabnya ketus. “Intan itu tak pernah ada,” kata pemuda itu sambil tertawa. “Ah tidak mungkin! Aku sudah membaca berbagai buku dan dikatakan di sinilah intan terbaik berada.”

Lalu pemuda itu ingat apa yang bapak-bapak itu katakan padanya: “…dan pelajaran itu hanya berari buat diri kita sendiri. Sebab saat kita coba ajarkan ke orang lain, ia belumlah melewati pengalaman yang sama dengan kita .” Akhirnya pemuda itu pun memilih untuk diam.

Tapi sedetik kemudian ia merasa sangat nikmat saat berbicara tadi. Ia pun memutuskan untuk menggetarkan lidahnya lagi, “Kamu datang dari mana?” “Dari desa jauh.” “Usia mu berapa?” tanya pemuda itu lagi. “Anda ini berisik sekali!!!” orang asing itu menghardik. “Tinggalkan aku sendiri!”

Pemuda itu pun hanya tertawa. Ia merasakan sebuah kenikmatan saat bisa berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Ia pun menatap langit. Dan ia merasa sangat takjub pada kemegahan birunya. Ia tidak pernah merasa selega ini dalam hidupnya. Ia bahkan tidak pernah menyadari bahwa dalam hidup ini ada yang lebih berarti dari sekadar intan yang selama ini ia cari.

“Alhamdulilah,” ujarnya. Lalu Pemuda itu pun segera beranjak dari tempatnya. Orang asing itu menoleh dan bertanya, “Dapat?” Pemuda itu menjawab, “Ya… Kuncinya adalah ketekunan.. Sebab untuk Merasakan kebahagiaan akan sesuatu, kita mesti menekuninya terlebih dahulu.” Ia pun pergi sambil mendengar racauan si orang asing itu tentang bagaimana dia tidak mempercayai omong kosong yang barusan diucapkan oleh pemuda itu. Dan pemuda itu hanya bisa tersenyum saja.

-: www.sarikata.com :-

PHILOSOPHY_STORY

BENALU DAN POHON ALPUKAT

Pada suatu hari , sebatang pohon alpukat sedang menikmati sejuknya udara sore. Tiba tiba keasyikan nya terusik oleh sapaan dari sebutir biji benalu yg terbang diterpa angin kiat kemari. selamat sore katï! sapa benalu , oh kamu lu , selamat sore juga, sahut alpukat . wah kat ,sekarang kamu uda besar , rantiing ranting mu banyak,daun mu lebat , buah mu besar-besar lagi,siapa pun pasti ingin memiliki mu, puji benalu.Iya Lu ,itu karna akar- akar ku banyak dan rajin menghisap sari dari dalam tanah, kata alpukat dengan bangga. Kemudian benalu melanjutkan rencana nya. Kat, hampir sepanjang hari aku diterbangkan angin,rasanya badanku cape semua, kat boleh nda’ aku beristirahat di salah satu ranting mu barang semaleeeeem aja ??? bole yaaa. Rayu benalu tanpa pikir panjang Alpukat langsung mengabulkan permintaan Benalu,Jangan kan satu benalu kecil, lima puluh benalu kaya kamu saya

mase ga rasa ,pikir Alpukat

Maka sejak saat itu pula Benalu tinggal di ranting Alpukat dan tanpa disadari oleh Alpukat , Benalu makin hari makin tumbuh dan ber anak banyak . suatu hari Alpukat sadar bahwa tubuh nya makin lama makin kurus,dia juga sadar akan dirinya yg telah dirugikan oleh Benalu . Setelah sadar bahwa dirinya sudah di rugikan oleh Benalu , lalu Alpukat memutuskan untuk menyuruh Benalu pergi meninggal kan tubuhnya.Owalah Kat , semua akarku sudah tertancap dalam tubuh jadi jangan pernah bermimpi kalo aku akan memenuhi permintaan mu , huahuahauahua aaa..aa..aaaaï kata Benalu sambil tertawa lebar agar perasaan Alpukat semakin parah,pedih , sakit & sediiiiiiiiiiiiiiih . semakin hari tubuh Alpukat semakin kurus , dan akhir nya mati karna Benalu terus menghisap makanan dari tubuh Alpukat tanpa belas kasihan .

Telah banyak dari kita yg bertindak seperti Alpukat ini , sewaktu dosaï kecil datang menggoda , dan hadir dengan segala daya tarik nya , kita tidak langsung menolak nya, dipikirnya Ah itu hanyalah dosa kecil saja,tidak akan berpengaruh, dan pikir nya karna dia anggap mase banyak yg berbuat dosa yg lebih besar. Alkitab membuktikan bahwa setiap orang yang meremehkan dosa, akan terjerat oleh dosa yang lebih besar lagi. Satu hal yg harus kita ingat, kalo hari ini anda melakukan dosa kecil , dan dosa kecil tersebut makin lama akan menjadi besar dan memperanakkan dosa lain karna salah satu sifat dosa adalah memperanakkan dosa. Jauhilah nafsu orang muda , Jangan merasa diri kuat secara rohani sehingga anda bermain main dengan dosa, tetapi setiap perbuatan dosa harus kita jauhi dan hindari.

DOSA BESAR ATAU PUN KECIL SAMA SAJA AKIBATNYA DAN KEDUA NYA SAMA SAMA DOSA

BIOLOGI MOLEKULER

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } A:link { color: #0000ff } –>

Pola pita dan model isochore dalam menjelaskan distribusi gen dalam kromosom eukariotik”.

Nama : Sulistiyani
NIM : B1J006026
Kelas : B1
Email : lin2_cut3@yahoo.com

Blog : http://lin2suliz.wordpress.com

Topik : B1-AG4

Ringkasan

Isochore merupakan segmen DNA yang sangat besar (rata-rata 300 kb) yang memiliki karakterisasi berupa perbedaan pada GC (Guanin-Sitosin), hal ini terlihat pada genome vertebrata khususnya pada mamalia dan genome tumbuhan (dan mungkin eukariotik lainnya). Famili dari molekul DNA yang terlihat sekarang pada genome mamalia yang lain telah diteliti sejak lama, DNA yang homogen disebut dengan isochore. Famili yang pertama terdiri dari dua isochore yaitu L1 dan L2, nama untuk famili kedua dan ketiga adalah H1 dan H2 dan menurut penelitian famili yang terkecil adalah H3. Sebagian besar dari genom mamalia khususnya mamalia terdiri dari 5 famili isochore yaitu L1, L2, H1, H2, dan H3 pada GC, kecuali jika satellite DNAs (2% dari genom) dan ribosomal DNAs (0.5% dari genom). Namun satelite DNAs dan ribosomal DNAs masih dapat dimasukan dalam isochore mengingat komposisinya yang homogen. Isochore dalam bidang biologi terlihat pada populasi gen, replikasi DNA, and recombinasi DNA serta pada dasar-dasar organisasi genome. Menurut Costantini (2006), Isochore pada kromosom manusia ukuran dan besarnya sama, hal ini didasarkan pada suatu penelitian pada kromosom manusia yaitu adanya variasi GC dan diantara wilayah yang berdekatan.

Ketidakseimbangan distribusi gen dapat dilihat dari model isochore pada organisasi genom. Model ini dapat dilihat dari genome vertebrata dan tumbuhan (atau eukariotik lain) terlihat sebagai mozaik segmen DNA. Setiap segmen mempunyai panjang 300 kb dan setiap segmen memiliki komposisi yang berbeda dari segmen-segmen yang berdekatan. Model isochore dalam suatu penelitian genom DNA digambarkan sebagai fragmen-fragmen yang berukuran kira-kira 100 kb, penelitian ini dilakukan dengan cara mengikat pita DNA dari AT (Adenin-Timin) ke wilayah GC (Guanin-Cytosin), dan potongan-potongan itu diberi pewarna, kemudian disentrifugasi, dihasilkan 5 fraksi. Setiap fraksi merepresentasikan 1 isochore dengan komposisi basa yang berbeda dari ishocore lainnya. Kelima isochore yaitu 2 kaya dengan A-T: L1 dan L2, 3 kaya dengan G-C: H1, H2 dan H3. Isochore H3 paling sedikit dijumpai dalam genom manusia, hanya 3% dari total genom tetapi mengandung > 25% genom. Penelitian ini dilakukan pada genom manusia, menghasilkan hanya 3% dari total keseluruhan, namun mengandung 25% lebih gen. Hal ini mengindikasikan bahwa gen tidak didistribusikan ke seluruh genom manusia.

Figure 3. _ distribusi GC dari isochores yang berdekatan. (A) The frequency plot shows the jumps in GC between adjacent isochores identified, in intervals of 0.2% GC. The mean difference is 3.9% GC (dashed line), and 82% of the differences between neighboring isochores are above 2% GC. (B) Diagram batang perbandingan _GC mengenai isochore dari tiap-tiap lima famili isochore (Costantini et al., 2006)

Figure 5. Distribusi dari isochore terdiri atas GC levels. Pada histogram terlihat distribusi (by weight) dari isochore seperti pooled in bins of 1% GC. Colors represent isochore families as in Figure 1. Values at minima (histogram bars with mixed colors) were split between the two neighboring families. The Gaussian profile shows the distribution of isochores as estimated directly by the “density” function in R (bandwidth 0.7% GC) (Silverman 1986).

Daftar Pustaka
Brown, T.A (2002) Anatomy of the Eukaryotic Genomes in Genomes, 2nd ed., Genome T. A. BROWN (2002) versi on line (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes) diakses tanggal 24 Oktober 2008

Situs Terkait

http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/summary?doi=10.1.1.14.1712 diakses tanggal 24 Oktober 2008

http://www.genome.org/cgi/reprint/16/4/536.pdf diakses tanggal 24 Oktober 2008

sulizz bgt..

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.